Membumikan Kriptografi, Perlukah??

Saya yakin, teman2 saya di jurusan Manajemen Persandian tidak akan segan2 menjitak saya karena judul postingan kali ini. :mrgreen: Baca dulu boi..

Membumikan kriptografi itu apa sih??

Saya bukan anak manajemen persandian, jadi tak akan saya tuliskan definisinya. Yang jelas, teknisnya adalah menjelaskan mengapa kriptografi dibutuhkan –walaupun kriptografi hanya sebuah bagian kecil dari usaha pengamanan-,, menanamkan kewaspadaan akan keamanan informasi kepada masyarakat,, memastikan bahwa pengamanan informasi –khususnya penggunaan ilmu kriptografi- dilakukan,, dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, perlukah?

Jelas perlu boi.. Saya tak rela belajar Route, DES, Digital Signature, AES, RSA, Key Management, Protokol Kriptografi, dan lain sebagainya kalau pada akhirnya ilmu itu sia2,, tak digunakan karena ternyata ilmu kriptografi tidak membumi a.k.a kriptografi dianggap tak perlu digunakan. Dan saya lebih tidak rela kalau misalnya algoritma otentikasi yang saya buat dalam bentuk sebuah aplikasi (tinggal “pake”) untuk login ke sebuah server berisi data rahasia menggunakan sebuah password digunakan oleh mereka yang menempelkan kertas berisi passwordnya di pinggiran monitor komputer. Mengertikah maksud saya? :-)

Saya akan memberikan contoh bagaimana Amerika Serikat, melalui institusinya yang bergerak di bidang kriptografi, yaitu NSA (National Security Agency) mencoba membumikan kriptografi di tempat mereka.

Lanjut membaca

Perkenalan yang Berkesan.. Hahahaha…

Pernyataan “Tetap Semangat”, “Saya bangga dengan adik-adik saya”, “Saya senang dan bangga bertemu dengan mahasiswa STSN”, “Harap kita bisa berbagi ilmu”, “Ikut Diklat karena ingin terus belajar untuk memenuhi tututan perkembangan zaman”, “Adik-adik yang lebih muda tentu kami harapkan apat mengembangkan persandian Indonesia” yang dilontarkan oleh senior-senior saya itu sedikit banyak membuat saya senang, bersemangat, bangga, tapi sekaligus malu. Malu??

Saya mau curhat (lagi).. :mrgreen: Jadi begini. Lembaga Sandi Negara selain menyelenggarakan pendidikan tinggi tempat saya berkuliah, yaitu STSN, juga menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) untuk Sandiman. Kedua jenis pendidikan ini ada dalam satu kompleks yang bernama Bumi Sanapati, itulah kampus saya. Oleh karena itu, ada tradisi berupa acara perkenalan di kampus saya setiap ada peserta Diklat Angkatan baru yang datang, entah itu Diklat yang lamanya 6 bulan, ataupun hanya dua minggu. Singkat cerita, yang ingin saya sampaikan ini adalah pengelanaan pikiran saya selama acara perkenalan dengan Diklat Sandiman* angkatan 142-143 dan Diklat Sandiman Ahli tk.III*.

Sejak awal perkenalan, saya terkesan dengan bapak-bapak yang memperkenalkan dirinya pada perkenalan gelombang pertama, yaitu bapak-bapak peserta Diklat Sandiman Ahli tk.III*. Bapak-bapak ini ternyata sebagian besar adalah senior-senior saya, lulusan Akademi Sandi Negara jaman saya belum lahir. Bukan karena beliau2 itu adalah senior saya makanya saya terkesan. Yang membuat saya terkesan adalah apa yang beliau2 sampaikan. Lanjut membaca